DELIKMALUKU29NEWS.COM, DOBO,– Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, mengingatkan Aparatur Sipil Negara (ASN) soal potensi kekeringan parah di wilayah Kepulauan Aru.
Imbauan tersebut disampaikan Bupati saat memimpin apel pagi di Lapangan Upacara Kantor Bupati Kepulauan Aru, Senin (26/10/2026).
“Kekeringan ini kemungkinan besar akan berlangsung hingga bulan April 2027,” terang Bupati Kaidel.
Oleh karena itu, Bupati menganjurkan agar ASN turut mensosialisasikan bahaya kekeringan tersebut kepada masyarakat.
“Pengaruh kekeringan ini dapat mengakibatkan kita meliburkan anak sekolah,” tambahnya.
Bupati menjelaskan, Pulau Wamar tidak memiliki sumber air alami seperti sungai dan hanya mengandalkan air tanah. Saat ini, kondisi tersebut diperparah karena sumur-sumur PDAM mengalami kekeringan sehingga tidak dapat berfungsi mengalirkan air ke rumah warga.
“Kita di Dobo hanya mengandalkan air tanah dari sumur PDAM. Dan saat ini sumur-sumur ini mengalami kekeringan parah sehingga air tidak dapat dipasok ke rumah warga. Ini ancaman,” tandas Kaidel.
Ancaman kekeringan jangka panjang di Kepulauan Aru ini sejalan dengan peringatan yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai situasi iklim nasional.
Berdasarkan rilis terkini BMKG, Indonesia tengah dilanda fenomena El Niño dengan intensitas Sangat Kuat (Super El Niño) serta fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kombinasi kedua anomali cuaca global ini berdampak signifikan pada berkurangnya curah hujan dan memperpanjang periode kering secara masif di sebagian besar wilayah Indonesia.
Kepala BMKG menjelaskan bahwa akibat fenomena tersebut, awal musim hujan periode 2026/2027 di sebagian besar daratan Indonesia diprediksi mengalami kemunduran atau datang lebih lambat dari rata-rata klimatologisnya.
Sekitar 61,08 persen wilayah Zona Musim (ZOM) di Indonesia terdampak oleh mundurnya awal musim hujan ini, yang secara otomatis memotong durasi musim hujan menjadi lebih singkat.
Hingga akhir Oktober 2026, BMKG bahkan mencatat sebanyak 106 kabupaten/kota di Indonesia telah masuk dalam peta darurat dengan “Status Awas” (Merah) akibat kekeringan meteorologis. Wilayah Maluku, bersama dengan sebagian kawasan di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Papua Selatan, menjadi daerah-daerah yang paling rentan mengalami krisis air bersih jangka panjang. Melalui data ini, langkah tanggap darurat dan imbauan hemat air yang diserukan Pemkab Kepulauan Aru menjadi sangat krusial guna memitigasi krisis air bersih yang meluas, kegagalan panen, serta risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama masa transisi musim yang berkepanjangan ini.(DMC-DS).















