DELIKMALUKU29NEWS.COM, AMBON,–Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) X Partai Golkar Kota Ambon, dinamika internal semakin menghangat. Ely Toisuta dan Steven Izaac Risakotta menjadi dua figur yang masuk dalam proses penjaringan bakal calon ketua setelah mengambil formulir pendaftaran melalui perwakilan.
Di tengah persiapan tersebut, sejumlah pengurus kecamatan bersama unsur Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG) dan Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) mendatangi Sekretariat DPD Partai Golkar Kota Ambon di kawasan Karang Panjang, Jumat (2/10/2026) sore.
Kedatangan mereka bertujuan meminta penjelasan mengenai langkah konsolidasi serta kepastian kelanjutan Musda setelah terbitnya Surat Keputusan Pelaksana Tugas (SK Plt) Ketua DPD Golkar Kota Ambon kepada Ely Toisuta.
Rombongan tiba sekitar pukul 17.45 WIT dan diterima Sekretaris DPD II Golkar Kota Ambon, Rudy Lawalatta, bersama sejumlah pengurus lainnya. Mereka meminta bertemu langsung dengan Ely, tetapi yang bersangkutan tidak berada di sekretariat karena sedang menjalankan aktivitas sebagai Wakil Wali Kota Ambon.
“Kami menghargai dan menyambut baik kehadiran teman-teman. Untuk saat ini Plt Ketua DPD, Ibu Ely Toisuta, tidak berada di tempat karena kesibukan sebagai Wakil Wali Kota Ambon. Nanti kami koordinasikan dengan beliau, baru kami sampaikan kepada perwakilan,” kata Rudy.
Berdasarkan pantauan media ini, sejumlah anggota Polresta Ambon juga terlihat berjaga di depan sekretariat. Belum diperoleh keterangan resmi mengenai alasan penjagaan tersebut.
Ketua Kecamatan Baguala, Joseph Ruban, menyatakan bahwa sejak SK Plt diterbitkan, pihaknya baru satu kali bertemu dengan Ely Toisuta. Karena itu, pengurus kecamatan meminta penjelasan sejauh mana mandat tersebut dijalankan untuk mengonsolidasikan internal partai.
Selain konsolidasi, persoalan utama yang mereka pertanyakan adalah status Musda X: apakah forum sebelumnya akan dilanjutkan setelah diskors atau dilaksanakan ulang.
“Apakah Musda ini digelar ulang atau dilanjutkan agenda sebelumnya yang hanya diskors. Sebab, kami tetap mempertahankan bahwa Musda X hanya diskors, bukan dibatalkan,” tegas Joseph.
Pertanyaan tersebut menunjukkan adanya perbedaan pemahaman mengenai kelanjutan forum. Kepastian status Musda dan dasar keputusan organisasi perlu dijelaskan kepada seluruh peserta agar tidak menimbulkan ketidakpastian yang semakin memperlebar jarak antarkader.
Situasi menjadi semakin sensitif setelah Joseph menyampaikan keberatan terhadap pernyataan Ilham Sipahutar yang dinilainya membawa isu agama ke dalam dinamika internal partai.
Menurut Joseph, persaingan dalam Musda tidak semestinya diarahkan menjadi persoalan antarentitas agama. Ia menegaskan bahwa Golkar merupakan partai nasionalis yang menjadi rumah bersama bagi kader dari berbagai latar belakang.
“Golkar ini partai nasionalis, bukan partai agama atau golongan tertentu. Saudara Ilham jangan menyampaikan pernyataan seperti itu. Jangan mempetakonflikan kita dalam ruang entitas agama,” ujarnya.
Sekretaris Kecamatan Nusaniwe, Edwin Manusiwa, menyampaikan keberatan serupa. Ia menilai pernyataan yang mengaitkan dinamika Musda dengan agama berpotensi memicu konflik di antara sesama kader.
Edwin menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menggunakan isu agama dalam proses Musda. Ia juga mengingatkan bahwa Ely Toisuta memperoleh dukungan masyarakat dalam pemilihan anggota DPRD, sehingga persoalan agama tidak seharusnya dikaitkan dengan persaingan kepemimpinan partai.
“Perlu kami tegaskan, kami sama sekali tidak pernah menggunakan isu agama dalam proses ini. Sekali lagi, kami tidak pernah membawa-bawa isu agama dalam proses Musda,” kata Edwin.
Keberatan terhadap pernyataan Ilham tersebut merupakan penilaian Joseph dan Edwin. Bahan pemberitaan yang tersedia belum memuat tanggapan Ilham atas keberatan tersebut.
Rangkaian persoalan ini memperlihatkan ketegangan internal yang perlu segera ditangani. Perbedaan dukungan merupakan bagian dari demokrasi organisasi, tetapi ketidakjelasan mekanisme dan komunikasi yang tersumbat dapat membuat benih-benih perpecahan semakin membesar.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius Ketua dan Sekretaris DPD Partai Golkar Provinsi Maluku. Langkah aktif diperlukan untuk mempertemukan pihak-pihak yang berbeda pandangan, mendengarkan aspirasi pengurus kecamatan, dan memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai aturan partai.
Kepastian status Musda, keabsahan peserta dan pemilik suara, serta mekanisme penjaringan dan penetapan calon harus disampaikan secara terbuka. Pengambilan formulir oleh Ely Toisuta dan Steven Izaac Risakotta belum berarti keduanya telah ditetapkan sebagai calon yang memenuhi seluruh persyaratan.
Dualisme yang mengemuka saat ini merupakan perbedaan sikap dan pemahaman mengenai arah konsolidasi serta kelanjutan Musda.
Informasi yang tersedia belum menunjukkan adanya dua kepengurusan resmi.
Persaingan kepemimpinan harus tetap menjaga persaudaraan kader.
Penggunaan isu agama, tekanan terhadap pemilik suara, maupun tindakan yang memperuncing permusuhan perlu dihindari agar forum berlangsung tertib dan bermartabat.
Musda X menjadi ujian bagi kemampuan Golkar Kota Ambon mengelola perbedaan.
Benih-benih perpecahan perlu diantisipasi sejak dini melalui kepemimpinan yang adil, komunikasi yang terbuka, dan keputusan organisasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan demikian, Musda dapat menghasilkan kepemimpinan yang memiliki legitimasi sekaligus memperkuat soliditas partai.(DMC-TIM).















