Delikmaluku29news.com, AMBON,-Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Maluku periode 2025–2030 kembali menuai sorotan tajam.
Publik menilai komposisi kepengurusan lebih sarat kepentingan politik ketimbang profesionalisme di bidang keolahragaan.
Fakta membuktikan, dari seratus lebih personel-personel yang direkrut, hanya 30–40 persen yang benar-benar memahami teknis keolahragaan karena berlatar belakang atlet, mantan atlet, maupun pelatih.
Selebihnya, adalah figur-figur dekat Ketua Umum KONI Maluku, Muhammad Armyn Syarif Latuconsina alias Sam Latuconsina, yang datang dengan pengalaman abu-abu bahkan nihil ilmu praktis di bidang olahraga.
Salah satu contoh paling mencolok ialah penunjukan LK sebagai Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres). Pemilik rumah kopi Ujung Jembatan Merah Putih (JMP) sekaligus wartawan senior ini memang punya rekam jejak panjang di dunia media cetak. Namun, sepanjang karier jurnalistiknya, Levinus tidak dikenal sebagai jurnalis olahraga.
Padahal, posisi Ketua Binpres merupakan jantung vital KONI, karena menyangkut pembinaan atlet, strategi pencapaian medali, hingga arah prestasi daerah menuju Pekan Olahraga Nasional (PON). Sejarah panjang KONI Maluku menunjukkan, kursi Binpres hampir selalu ditempati tenaga teknis dengan kompetensi keolahragaan mumpuni.
“Menjadi jurnalis umum lalu menduduki jabatan strategis di Binpres jelas tidak lazim. Risiko salah arah pembinaan atlet semakin besar,” kata salah satu pemerhati olahraga Maluku yang enggan disebut namanya kepada Delikmaluku29news.com di Ambon, Senin (29/9/2025).
Kritik publik ini mengingatkan pada kegagalan KONI Maluku di bawah kepemimpinan sebelumnya, ketika politisi Arif Hentihu menjabat Ketubid Binpres. Saat PON XXI/2024 Aceh–Sumut, Maluku anjlok ke posisi 31 dari 38 provinsi kontestan event olahraga akbar nasional empat tahunan itu , sebuah kemerosotan prestasi yang menyakitkan. Kini, dengan ditunjuknya figur yang minim kompetensi, kekhawatiran serupa kembali menghantui.
Apalagi, Maluku kini kesulitan melahirkan atlet lapis satu maupun lapis dua. Target PON XXII/2028 di NTT–NTB hanya tinggal slogan jika SDM di internal KONI Maluku tidak segera diperbaiki atau direvisi.
Lebih baik ramping struktur tapi berkualitas daripada gemuk tapi kurang berkualitas.
Ketua KONI Maluku, Sam Latuconsina, ketika dikonfirmasi menegaskan kritik publik akan menjadi bahan evaluasi.
“Terima kasih kritiknya. Itu menjadi cambuk dan atensi bagi kami untuk perbaikan olahraga di Maluku. Salam,” singkat Sam.
Kini, publik menunggu: apakah KONI Maluku berani menempatkan orang tepat di posisi tepat, ataukah terus menyerahkan masa depan olahraga daerah pada “orang-orang dekat” yang asing dengan dunia pembinaan prestasi? Jika kondisi ini terus dibiarkan bukan tak mungkin Maluku bakal terpuruk lagi di PON 2028. (RED DMC).















